Rabu, 18 Februari 2015

Ada apa dengan negeriku

Hampir empatpuluh hari media nasional menyuguhkan akrobat politik yang terjadi di negeri ini. Politik yang saya rasa untuk perebutan kekuasaan dan materi terpampang nyata. Saya bukanlah pakar hukum, bukan juga pejabat dan penegak hukum, saya hanya rakyat biasa. Namun pemandangan yang saya lihat dari kaca mata rakyat biasa ini membuat saya malu, ingin rasanya menangis, ingin berbuat sesuatu dari pada hanya menulis kekesalan saya difacebook atau di blog. Tapi saya tidak tahu harus memulai dari mana.

Dari dahulu saya percaya politik itu kejam, akan ada intrik dan cara - cara yang segaja 'dilegalkan' untuk jegal menjegal demi berada ditampuk kekuasaan. Namun saya juga percaya bahwa masih ada orang- orang baik yang ingin membangun negeri. Mereka bukannya tidak ada, mereka tidaklah sedikit, hanya saja banyak yang diam dan mediamkan. Akibatnya seperti yang terlihat sekarang. Banyak orang buruk yang menguasainya.

Saya ikut prihatin dengan pemimpin negeri. Meskipun dia menjadi orang nomor satu, akan tetapi saya melihatnya sebagai anak kecil yang lumpuh yang butuh bantuan orang lain untuk terus mendorongnya agar bisa berdiri sendiri. Saya prihatin dengan orang orang yang mengelilinginya, bagaimana dia tertekan dengan setiap langkah dan keputusan yang akan diambil. Hanya satu yang ingin saya 'bisikkan' ke beliau, 'mendekatlah ke rakyat', merekalah yang harus kau layani, karena mereka adalah tanggung jawabmu. Jangan sampai satu tangisan rakyatmu menghambatmu dari surgaNya. Jadilah pemimpin yang melayani, mengayomi dan menjaga rakyatnya. Karena sesungguhnya seorang pemimpin adalah pelayan bagi rakyat.

Bagi orang yang tau hukum, bertindaklah sesuai dengan kata-kata yang disematkan oleh institusimu. Hargai nama yang selalu menempel di nama anda.

Terakhir, bekerjalah dengan hati. Layani dengan nurani.

Jumat, 13 Februari 2015

Suka duka toilet training

Mengajarkan anak toilet training (TT) pada intinya adalah proses pembelajaran kesabaran tingkat tinggi bagi seorang ibu, pembelajaran mempercayai kepada si anak sepenuhnya.

 Untuk hal ini saya termasuk terlambat mengajari anak saya TT. Menginjak usia 2,5 tahun saya baru melepas diapers yang dia pakai. Alasan saya hanya karena dirumah banyak sekali barang yang harus dipacking untuk dikirim ke customer, saya takut jika sewaktu - waktu dia pipis tanpa saya menyadarinya. Meskipun telat TT tak segampang yang saya bayangkan. Harus telaten untuk natur mas aang selama 1 jam sekali dalam masa awal. Terkadang saya 'kecolongan' sehingga mas aang sudah pipis atau pup duluan dilantai sebelum saya bawa ke kamar mandi. Seiring berjalannya waktu saya dan mas aang saling mengerti dan paham aturan dalam TT.

 Saling percaya. Ketika anak saya bilang 'umi, aang mau pipis'. Segera saya bawa dia kekamar mandi dan tidak lama kemudian dia akan pipis. Atau ketika dia bilang 'umi, aang mau ee'. Setelah dua menit dikamar mandi dia akan mengeluarkan pup. Untuk tidur siang saya mencoba untuk tidak memakaikan diapers, untuk melihat apakah mas aang bisa. Sebelum tidur siang biasanya saya menawari anak saya untuk pipis. Setelah itu dia tidur 1-3jam, tidak selalu dan alhamdulillah dia tidak ngompol. Berulangkali saya memujinya 'mas aang pinter, sudah ga pakai diapers lagi, bisa bilang pipis sama ngengek, sudah bisa ke kamar mandi sendiri'. Itu bentuk ucapan tulus saya karena dia secara tidak langsung membantu menyemangati saya pula. Bahwa hal ini memang berproses.

Ketika malam hari menjelang tidur saya antar mas aang ke kamar mandi dan menemaninya pipis, saya tanya apakah mau eek juga, terkadang dia mengangguk. Hanya saja sampai sekarang kadang dia minta pakai diapers untuk tidur malam. Karena saya menawarinya perlak. Takut jika nanti dia ngompol di malam hari. Karena dia risih dengan perlak dibawah tubuhnya akhirnya dia memilih memakai diapers. Sebenarnya bisa untuk melepas dengan catatan saya melihat beberapa jam sekali kalau nanti dia risih dan ingin pipis. Saya masih perlu waktu untuk lulus dalam tahap ini. Semoga.