Hampir empatpuluh hari media nasional menyuguhkan akrobat politik yang terjadi di negeri ini. Politik yang saya rasa untuk perebutan kekuasaan dan materi terpampang nyata. Saya bukanlah pakar hukum, bukan juga pejabat dan penegak hukum, saya hanya rakyat biasa. Namun pemandangan yang saya lihat dari kaca mata rakyat biasa ini membuat saya malu, ingin rasanya menangis, ingin berbuat sesuatu dari pada hanya menulis kekesalan saya difacebook atau di blog. Tapi saya tidak tahu harus memulai dari mana.
Dari dahulu saya percaya politik itu kejam, akan ada intrik dan cara - cara yang segaja 'dilegalkan' untuk jegal menjegal demi berada ditampuk kekuasaan. Namun saya juga percaya bahwa masih ada orang- orang baik yang ingin membangun negeri. Mereka bukannya tidak ada, mereka tidaklah sedikit, hanya saja banyak yang diam dan mediamkan. Akibatnya seperti yang terlihat sekarang. Banyak orang buruk yang menguasainya.
Saya ikut prihatin dengan pemimpin negeri. Meskipun dia menjadi orang nomor satu, akan tetapi saya melihatnya sebagai anak kecil yang lumpuh yang butuh bantuan orang lain untuk terus mendorongnya agar bisa berdiri sendiri. Saya prihatin dengan orang orang yang mengelilinginya, bagaimana dia tertekan dengan setiap langkah dan keputusan yang akan diambil. Hanya satu yang ingin saya 'bisikkan' ke beliau, 'mendekatlah ke rakyat', merekalah yang harus kau layani, karena mereka adalah tanggung jawabmu. Jangan sampai satu tangisan rakyatmu menghambatmu dari surgaNya. Jadilah pemimpin yang melayani, mengayomi dan menjaga rakyatnya. Karena sesungguhnya seorang pemimpin adalah pelayan bagi rakyat.
Bagi orang yang tau hukum, bertindaklah sesuai dengan kata-kata yang disematkan oleh institusimu. Hargai nama yang selalu menempel di nama anda.
Terakhir, bekerjalah dengan hati. Layani dengan nurani.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar